Ideopol.id, MAKASSAR – DPRD Kota Parepare melakukan konsultasi ke DPRD Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) terkait kelangkaan gas elpiji 3 kilogram atau “gas melon” yang terjadi dalam sebulan terakhir dan berdampak langsung pada masyarakat.
Kunjungan para legislator Parepare tersebut diterima Ketua Fraksi Partai NasDem DPRD Sulsel, Muhammad Sadar, Kamis (30/4/2026).
Dalam pertemuan itu, Ketua Komisi III DPRD Parepare, Hamran Hamdani, menegaskan pihaknya ingin menelusuri akar persoalan yang menyebabkan terganggunya distribusi gas subsidi di daerahnya.
Menurut Hamran, kondisi kelangkaan ini menimbulkan tanda tanya karena tidak disertai kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) maupun gas subsidi dari pemerintah.
“Karena itu, kami datang ke provinsi untuk mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi di lapangan,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, dampak kelangkaan sangat dirasakan masyarakat. Selain sulit diperoleh, harga gas melon di tingkat konsumen juga melonjak jauh di atas harga eceran tertinggi (HET).
“Biasanya masih sesuai standar, sekarang meningkat cukup tinggi dan memberatkan masyarakat,” jelas politisi Golkar tersebut.
Hamran menduga permasalahan utama terletak pada distribusi, bukan pada ketersediaan kuota. Oleh karena itu, pihaknya akan menelusuri rantai distribusi hingga ke tingkat paling bawah.
“Kami membutuhkan dukungan DPRD Sulsel untuk membantu koordinasi dengan pihak terkait, termasuk Pertamina, agar persoalan ini bisa segera diurai,” katanya.
Ia menambahkan, kejelasan informasi sangat dibutuhkan agar pemerintah daerah dapat memberikan penjelasan yang akurat kepada masyarakat.
“Kami butuh data dan penjelasan yang pasti supaya tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Muhammad Sadar menyatakan DPRD Sulsel siap memfasilitasi koordinasi lintas pihak guna memastikan distribusi gas subsidi kembali normal.
“Terkait kelangkaan gas melon ini, kami di DPRD provinsi akan membantu menjembatani komunikasi dengan pihak terkait,” ujarnya.
Ia berharap, melalui langkah koordinasi tersebut, penyebab utama kelangkaan dapat segera diidentifikasi dan ditangani secara tepat.
“Dengan begitu, distribusi bisa kembali lancar dan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi,” pungkasnya.






