Mengenal Socrates: Filsuf yang Mengajarkan Keberanian Bertanya, Warisan Pemikiran yang Tetap Relevan di Era Digital

- Editor

Minggu, 28 Juni 2026 - 10:52 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Filsuf Socrates.

Ilustrasi Filsuf Socrates.

Ideopol.id, MAKASSAR – Lebih dari 2.400 tahun telah berlalu sejak Socrates mengajarkan filsafat di sudut-sudut Kota Athena, Yunani. Namun, gagasan-gagasannya tentang kebenaran, kejujuran, dan pentingnya berpikir kritis justru semakin relevan di tengah kehidupan modern yang dipenuhi arus informasi dan perubahan sosial yang begitu cepat.

Socrates lahir sekitar tahun 470 Sebelum Masehi (SM) di Athena. Ia merupakan putra dari Sophroniscus, seorang pemahat batu, dan Phaenarete, seorang bidan. Berbeda dengan filsuf pada umumnya, Socrates tidak pernah menulis buku. Seluruh pemikirannya diketahui melalui murid-muridnya, terutama Plato, serta karya sejarawan Yunani Xenophon dan drama satir karya Aristophanes.

Socrates dikenal sebagai sosok sederhana. Ia tidak mengejar kekayaan maupun jabatan politik. Sebaliknya, ia menghabiskan waktunya berdialog dengan masyarakat dari berbagai kalangan—pedagang, tentara, pejabat hingga kaum muda—untuk mengajak mereka mempertanyakan keyakinan, nilai, dan cara berpikir mereka.

Metode yang digunakannya kemudian dikenal sebagai Metode Socrates (Socratic Method), yakni proses mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis agar seseorang menemukan sendiri kelemahan atau kekuatan argumennya. Baginya, pengetahuan bukan sekadar menghafal fakta, melainkan lahir dari proses berpikir yang mendalam.

Salah satu ungkapannya yang paling terkenal adalah: “The unexamined life is not worth living.” “Hidup yang tidak pernah direfleksikan tidak layak dijalani.”

Ungkapan tersebut menegaskan bahwa manusia perlu terus mengevaluasi diri, mempertanyakan tindakan dan keputusan yang diambil, serta belajar dari pengalaman.

Dihukum Mati Karena Mempertanyakan Kekuasaan

Meski dihormati banyak murid, pemikiran Socrates juga memicu kontroversi di Athena.

Pada tahun 399 SM, ia diadili dengan tuduhan tidak menghormati dewa-dewa negara dan dianggap merusak moral generasi muda melalui ajaran-ajarannya.

Dalam sidang yang dicatat Plato melalui dialog Apology, Socrates membela diri dengan menyatakan bahwa tugasnya adalah membantu masyarakat mencari kebenaran. Ia menolak menghentikan aktivitas berdialog meski diberi kesempatan.

Pengadilan akhirnya menjatuhkan hukuman mati. Socrates menerima keputusan tersebut dan menolak melarikan diri meskipun para sahabatnya telah menyiapkan jalan keluar.

Ia meninggal setelah meminum racun hemlock (Conium maculatum), sebuah peristiwa yang kemudian dikenang sebagai simbol keberanian mempertahankan prinsip dan kebebasan berpikir.

Guru dari Para Filsuf Besar

Warisan Socrates tidak berhenti pada dirinya. Muridnya, Plato, mendirikan Akademi di Athena yang menjadi salah satu lembaga pendidikan paling berpengaruh dalam sejarah dunia. Dari Akademi tersebut lahir Aristoteles, yang kemudian menjadi guru Alexander Agung.

Dengan demikian, pemikiran Socrates menjadi fondasi penting bagi perkembangan filsafat Barat, ilmu pengetahuan, etika, politik, hingga metode pendidikan modern.

Relevansi di Era Digital

Di tengah derasnya arus informasi saat ini, ajaran Socrates justru semakin penting.

Media sosial memungkinkan siapa saja menyampaikan pendapat dalam hitungan detik. Namun, kemudahan tersebut juga memicu penyebaran hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, dan polarisasi.

Pendekatan Socrates mengingatkan bahwa setiap informasi perlu diuji melalui pertanyaan-pertanyaan mendasar: Apakah benar? Apa buktinya? Dari mana sumbernya? Apakah kesimpulan tersebut logis?

Sikap kritis seperti inilah yang menjadi salah satu fondasi literasi digital di abad ke-21.

Di dunia pendidikan, metode Socrates masih banyak diterapkan melalui diskusi interaktif yang mendorong mahasiswa dan pelajar berpikir mandiri, bukan sekadar menerima informasi secara pasif.

Relevansi dengan Indonesia

Di Indonesia, nilai-nilai yang diajarkan Socrates memiliki makna penting dalam kehidupan demokrasi.

Masyarakat dituntut tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga warga negara yang aktif mengawasi jalannya pemerintahan, mengkritisi kebijakan secara argumentatif, serta berpartisipasi dalam menyelesaikan persoalan publik.

Dalam praktik jurnalistik, misalnya, semangat Socrates tercermin dalam upaya menggali fakta melalui pertanyaan-pertanyaan kritis sebelum sebuah informasi dipublikasikan. Prinsip ini sejalan dengan etika pers yang menempatkan verifikasi sebagai fondasi utama pemberitaan.

Di lingkungan birokrasi dan dunia usaha, ajaran Socrates tentang integritas juga menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak semata diukur dari materi, melainkan dari kejujuran, tanggung jawab, dan keberanian mempertahankan nilai-nilai etis.

Warisan yang Tak Pernah Usang

Meski hidup lebih dari dua milenium lalu, Socrates tetap dikenang sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah peradaban manusia.

Ia tidak meninggalkan bangunan megah, tidak menulis buku, dan tidak memimpin kerajaan. Namun, keberaniannya mempertanyakan sesuatu yang dianggap mapan telah mengubah cara manusia memahami ilmu pengetahuan, moral, dan kehidupan.

Di tengah dunia yang semakin bising oleh informasi, warisan terbesar Socrates bukanlah sekadar filsafat, melainkan kebiasaan untuk berpikir sebelum percaya, bertanya sebelum menyimpulkan, dan mencari kebenaran melalui dialog yang rasional.

Nilai-nilai tersebut tetap menjadi bekal penting bagi masyarakat modern dalam membangun budaya yang lebih kritis, terbuka, dan bertanggung jawab.

Berita Terbaru