ideopol.id, MAKASSAR – Dinas Kebudayaan Kota Makassar sukses memukau delegasi dari 28 negara yang menghadiri rangkaian Indonesia Gastrodiplomacy Series (IGS) 2026 melalui pementasan kolosal La Galigo pada acara welcome dinner yang digelar di kawasan bersejarah Benteng Fort Rotterdam, Selasa malam.
Tidak hanya disuguhi aneka kuliner khas Sulawesi Selatan, para tamu internasional juga diajak menyelami kekayaan budaya Bugis-Makassar melalui pertunjukan spektakuler yang dikemas megah di atas panggung berbentuk kapal pinisi, simbol kejayaan maritim masyarakat Sulawesi Selatan yang telah mendunia.
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Makassar, Andi Patiware, mengatakan pementasan tersebut sengaja dihadirkan sebagai bagian dari upaya memperkenalkan identitas budaya Sulawesi Selatan kepada para delegasi asing yang hadir dalam forum diplomasi internasional tersebut.
Menurutnya, diplomasi budaya memiliki peran strategis dalam memperkuat promosi daerah di tingkat global, sekaligus mendukung pengenalan potensi pariwisata, ekonomi kreatif, dan sejarah Kota Makassar.
“Kami ingin para delegasi tidak hanya mengenal Makassar melalui kekayaan kulinernya, tetapi juga memahami warisan budaya dan sejarah yang menjadi identitas masyarakat Sulawesi Selatan,” ujar Andi Patiware.
Pementasan La Galigo yang dipadukan dengan tata artistik modern, permainan cahaya, musik tradisional, dan visual kapal pinisi menghadirkan pengalaman budaya yang memikat. Pertunjukan tersebut seakan membawa para penonton menelusuri jejak panjang peradaban Bugis-Makassar yang sarat nilai sejarah, filosofi hidup, dan kearifan lokal.
Andi menjelaskan, pemilihan La Galigo bukan tanpa alasan. Epos tersebut merupakan salah satu warisan budaya paling berharga yang dimiliki Sulawesi Selatan dan telah mendapat pengakuan dunia internasional.
“La Galigo adalah kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan. Melalui pementasan ini, kami ingin menunjukkan bahwa Makassar memiliki warisan budaya kelas dunia yang layak dikenal dan diapresiasi oleh masyarakat internasional,” katanya.
La Galigo atau Sureq Galigo merupakan salah satu mahakarya sastra terbesar di dunia yang telah ditetapkan UNESCO sebagai Memory of the World pada 2011. Naskah ini dikenal sebagai salah satu karya sastra terpanjang di dunia, terdiri atas lebih dari 300.000 baris syair atau sekitar 6.000 halaman folio, bahkan melampaui panjang epos Mahabharata dan Ramayana.
Kisah dalam La Galigo mengangkat mitologi penciptaan alam semesta, asal-usul manusia, hingga perjalanan tokoh legendaris Sawerigading, yang menjadi simbol keberanian, pengembaraan, kepemimpinan, dan nilai-nilai luhur masyarakat Bugis.
Melalui pementasan tersebut, Pemerintah Kota Makassar berharap para delegasi memperoleh pengalaman budaya yang autentik dan berkesan selama berada di Sulawesi Selatan.
“Kami berharap para delegasi membawa pulang kenangan yang mendalam tentang Makassar, bukan hanya dari sisi kuliner, tetapi juga dari kekayaan seni, budaya, dan sejarah yang menjadi kebanggaan masyarakat kami,” tuturnya.
Pementasan La Galigo menjadi salah satu atraksi utama dalam malam penyambutan delegasi IGS 2026 dan menuai apresiasi dari para tamu internasional yang hadir. Di tengah suasana historis Benteng Fort Rotterdam, pertunjukan tersebut menjadi simbol bagaimana budaya dapat menjadi bahasa universal yang mempererat hubungan antarbangsa sekaligus memperkuat citra Makassar sebagai kota yang kaya akan warisan budaya dan terbuka bagi dunia.






