ideopol.id, MAKASSAR – Organisasi Pandu Negeri kembali menggelar Public Lecture Series edisi ke-003 di Kampus Universitas Negeri Makassar (UNM), Sabtu (9/5/2026). Forum diskusi publik ini mengangkat tema besar “Situasi Global dan Arah Politik Negeri” dengan fokus pada peran generasi muda dalam konsep To Build the World A New.
Kegiatan yang juga disiarkan melalui kanal YouTube @PanduNegeri tersebut menghadirkan sejumlah narasumber nasional, di antaranya pengamat politik Rocky Gerung, praktisi hukum Prof. Hamid Awaluddin, serta pakar kebijakan publik Andi Luhur Prianto.
Ketua Pelaksana Public Lecture Series, Ishadi Ishak, mengatakan kegiatan Pandu Negeri sebelumnya telah digelar di Yogyakarta dan Surabaya, sementara Makassar menjadi kota ketiga pelaksanaan forum intelektual tersebut.
Menurut Ishadi, konsep Pandu Negeri terinspirasi dari gagasan Presiden pertama RI, Ir. Soekarno, yang pernah disampaikan dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.
“Di tengah dinamika geopolitik global dan berbagai tantangan yang terus berkembang, generasi muda tidak hanya diharapkan menjadi penonton, tetapi juga mampu mengambil bagian dalam menentukan arah masa depan bangsa,” ujar Ishadi.
Ia berharap forum tersebut menjadi ruang diskusi yang sehat, terbuka, dan mencerahkan bagi generasi muda.
“Bukan hanya sekadar mendengar pandangan para pembicara, tetapi juga membangun kesadaran kritis bahwa masa depan Indonesia membutuhkan generasi yang berpikir luas, berani berdialog, dan siap mengambil peran,” tambahnya.
Acara ini turut dihadiri sejumlah tokoh politik Sulawesi Selatan, di antaranya Anggota DPR RI Andi Ridwan Wittiri dan mantan Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan “Danny” Pomanto.
Dalam forum tersebut, Andi Ridwan Wittiri menyoroti sistem pemilihan legislatif yang dinilai terlalu bertumpu pada suara terbanyak tanpa memperhatikan proses kaderisasi politik.
Menurutnya, kaderisasi penting agar anggota DPR tidak hanya terpilih karena popularitas atau besarnya perolehan suara, tetapi juga memiliki kapasitas dan tanggung jawab sebagai wakil rakyat.
“Kalau kita memulai dari proses kaderisasi yang baik, maka ke depan kita akan memiliki anggota yang benar-benar siap dan bertanggung jawab,” katanya.
Ia juga menilai evaluasi terhadap penyelenggara pemilu perlu dilakukan secara berkala melalui sistem ad hoc agar kualitas penyelenggara terus meningkat.
“Saya akan menyampaikan di DPR kepada komisi terkait bahwa penyelenggara pemilu sebaiknya bersifat ad hoc. Dengan begitu, ada evaluasi dan seleksi ulang sehingga kualitas penyelenggara dapat terus diperbaiki,” ujarnya.
Sementara itu, Danny Pomanto menekankan pentingnya membangun tujuan bersama dalam memperkuat demokrasi dan peradaban bangsa.
Ia mencontohkan Singapura yang mampu berkembang menjadi negara maju meski memiliki wilayah kecil.
“Kenapa kita takut dengan Singapura? Singapura hanya setitik merah. Namun justru karena keterbatasan itu mereka mampu memaksimalkan seluruh potensinya,” kata Danny.
Menurut Danny, demokrasi akan berkembang jika masyarakat memiliki semangat kolektif dalam menghadapi tantangan bersama.
Ia juga menyoroti kondisi demokrasi dan penegakan hukum di Indonesia yang dinilai masih dibayangi rasa takut terhadap kekuasaan.
“Kecerdasan hari ini sangat takut dengan hukum. Hukum kita takut kepada politik, politik kita takut dengan kekuasaan. Dengan kondisi seperti itu, kita tidak akan pernah benar-benar maju,” tegasnya.
Pengamat politik Rocky Gerung dalam pemaparannya mengkritik kondisi diskursus intelektual politik yang dinilai semakin dangkal dan kehilangan substansi.
“Kita menghadapi fenomena homeless intellectual discourse atau tunawisma diskursus intelektual. Politik hari ini kering dari perdebatan substantif,” ujar Rocky.
Ia menilai generasi muda perlu membangun kembali tradisi berpikir kritis dan menghadirkan gagasan baru bagi dunia, sebagaimana Soekarno pernah menawarkan Pancasila di forum internasional.
“Apa yang kita hadapi hari ini bukan sekadar krisis minyak atau gas, melainkan krisis sistem dan ideologi global,” katanya.
Rocky juga menegaskan bahwa generasi muda, khususnya di Makassar, harus mampu menghadirkan percakapan intelektual yang relevan untuk masa depan dunia.
“Perang memiliki risiko yang bisa dihitung, tetapi ketidakpastian hanya bisa dihadapi dengan infrastruktur berpikir yang kokoh. Generasi baru harus mampu menawarkan gagasan untuk membangun dunia kembali,” pungkasnya.






